Rabu, 13 Januari 2010

Aktualisasi dan Pengembangan Jaringan di Organisasi

Jika hari ini lebih baik dari kemarin, maka kita termasuk orang beruntung
Jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk orang merugi
Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka kita termasuk orang celaka.

Sejumlah kalimat di atas menyiratkan pesan moral mendalam. Dalam perjalanan hidup dari hari ke hari, kualitas hidup manusia bisa lebih baik, lebih buruk, ataupun sama dengan kemarin. Hal ini tergantung pada bagaimana manusia mendayagunakan segenap potensi yang dimilikinya.

Pada dasarnya manusia dibekali segenap potensi. Potensi merupakan kekuatan tersembunyi yang tidak bisa dimuncul sendiri, melainkan harus dimunculkan. Meski awalnya tersembunyi, tidak sedikit orang yang berhasil menampakkan potensi tersebut hingga mengantarnya ke puncak kesuksesan. Namun tak sedikit pula orang yang mengubur potensi tersebut hingga akhirnya memiliki kualitas hidup yang makin hari makin buruk. Orang-orang ini telah gagal dalam hidup. Tak heran bila sangat ditekankan, baik di buku motivasi atau di pelatihan pengembangan diri, agar manusia terus mengembangkan potensi diri dan menggali kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.

Apa itu Aktualisasi Diri?
Berdasarkan definisi dari Wikipedia, aktualisasi diri merupakan kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Istilah ini digunakan dalam berbagai teori psikologi, seperti oleh Kurt Goldstein, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Goldstein melihat bahwa kebutuhan ini menjadi motivasi utama manusia, sementara kebutuhan lainnya hanyalah manifestasi dari kebutuhan tersebut. Adapun teori Maslow yang membuat istilah aktualisasi dikenal luas, yaitu tentang hierarki kebutuhan, yang menganggap aktualisasi diri merupakan tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Carl Rogers, seorang ahli psikologi aliran humanisme, yang mengatakan bahwa motivasi orang sehat adalah aktualisasi diri. Menurutnya, aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik.

Menurut Andrie Wongso, aktualisasi diri merupakan suatu tahapan dalam mendahsyatkan potensi diri. Tahap aktualisasi diri merupakan proses realisasi potensi diri setelah mampu melakukan tindakan-tindakan cepat, berani ambil risiko, dan mampu mengambil pelajaran atas keberhasilan dan kegagalan kita. Dalam proses perwujudan ini, kita dituntut untuk melakukan sesuatu secara profesional, efektif, dan efisien.

Andreas Harefa mengungkap hal penting pula menyangkut tanggung jawab manusia, dalam buku berjudul Menjadi Manusia Pembelajar. Menurutnya, pada dasarnya orang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi, dan bakat-bakat terbaiknya. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang “bukan dirinya”. Manusia inilah yang disebut Andreas sebagai manusia pembelajar

Bakti untuk Kemanusiaan
Sebetulnya, boleh dibilang pengalaman hidup tertinggi bagi manusia adalah saat dia mampu mengaktualisasikan keberadaannya sebagai pribadi yang hidup dan utuh. Oleh karenanya, orang yang mengaktualisasikan dirinya adalah orang-orang yang mengerti tujuan hidupnya.

Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Abraham Maslow terhadap sejumlah tokoh dunia di antaranya George Washington, Albert Einsten, dan lainnya. Dalam penelitian ini, ditemukan suatu sifat yang dimiliki tokoh tersebut yaitu kemampuan mengaktualisasikan dirinya. Kemampuan untuk mengetahui tujuan hidupnya yaitu panggilan kemanusiaan, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga bagi orang lain.

Orang yang mengaktualisasikan dirinya mengerti dengan betul bahwa apa yang dimilikinya dan diperjuangkan bukan hanya untuk memenuhi kepentingan diri, tapi juga untuk kepentingan kemanusiaan. Oleh karenanya, orang-orang besar yang disebutkan di atas merupakan orang-orang yang mengabdikan diri pada kepentingan kemanusiaan. Sejarah telah mencatat peran-peran yang telah disumbangkannya pada umat manusia, meski mereka sudah tidak hidup lagi.

Aktualisasi Diri dan Pengembangan Jaringan
Satu hal yang tak bisa dilepaskan dalam pengaktualisasian diri seorang manusia adalah pembentukan jaringan. Untuk membantu pengaktualisasian diri dibutuhkan jaringan luas, seperti yang dikatakan oleh Andrie Wongso, bahwa tahap aktualisasi diri menuntut kemampuan kita untuk menjalin koneksi atau relasi yang bernilai lebih. Ada kalanya potensi, kemampuan, keterampilan, dan nilai lebih kita, macet gara-gara tidak menemukan saluran aktualisasi yang sepantasnya. Relasi dan koneksi kadang bisa berfungsi seperti jalan dan jembatan menuju ke sasaran yang kita inginkan. Di sinilah arti penting koneksi atau relasi dengan orang lain, terutama sekali relasi-relasi yang berkualitas. Relasi atau koneksi yang berkualitas merupakan daya ungkit yang bisa dimanfaatkan untuk mendongkrak keberhasilan kita.

Nah, adapun aktualisasi dan pengembangan jaringan ini bisa dilakukan secara sinergis dalam wadah atau organisasi. Bagi mahasiswa, organisasi yang umumnya diikuti adalah organisasi kemahasiswaan yang bertempat di kampus. Bila merujuk pada pendapat Andrie Wongso, maka sangatlah tepat bila dua hal di atas dikembangkan sejak dini, terutama saat mahasiswa agar kelak nanti bisa dengan mudah mengarungi kehidupan pasca mahasiswa, terutama di dunia pekerjaan. Kesempatan mahasiswa hanyalah sekali dalam seumur hidup. Oleh karenanya, sangat disayangkan bila masa-masa mahasiswa dibiarkan begitu saja tanpa upaya dahsyat untuk mendahsyatkan potensi diri.

Mahasiswa yang Berorganisasi
Seorang teman pernah bertanya pada penulis, apa sih manfaat berorganisasi? Pertanyaan ini diajukan oleh teman yang berkeinginan bergabung di organisasi tertentu di mana penulis bergabung terlebih dahulu. Saya menjelaskan dengan panjang lebar tentang manfaat berorganisasi, sekaligus membujuknya agar ikut bergabung dengan organisasi yang saya ikuti.

Penulis jelaskan bahwa berorganisasi merupakan kegiatan positif yang mestinya tiap mahasiswa harus aktif di dalamnya. Kehidupan kampus bukan hanya diisi dengan kuliah di kelas, tapi juga belajar lewat organisasi. Nah, salah satu manfaat organisasi adalah menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan dirinya. Selain itu, pembentukan jaringan tentu tak luput dari aktivitas keorganisasian, karena tiap organisasi punya jaringan dan pasti orang-orang di dalamnya yang menggerakkan jaringan tersebut.

Pengalaman berorganisasi di saat mahasiswa telah membentuk karakter positif dari sejumlah tokoh-tokoh besar negeri ini. Bahkan di sekitar kita pun muncul banyak tokoh-tokoh sukses yang dulunya merupakan aktivis di organisasi tertentu. Prof. Dr Ainun Na’im yang saat ini menjadi wakil rektor senior di UGM merupakan ketua umum organisasi ekstra mahasiswa Islam pada sekitar 1980-an lalu.

Sejumlah tokoh-tokoh lain di Indonesia seperti Jusuf Kalla, Adyaksa Dault, dan banyak tokoh di DPR merupakan aktivitas – aktivis organisasi mahasiswa saat mereka kuliah. Mereka sangat menyadari bahwa masa mahasiswa bukan hanya dimanfaatkan untuk mencari ilmu di kelas, tapi juga ilmu itu terbentang luas di luar kelas sehingga perlu pula dicari. Oleh karenanya, orang-orang ini sadar bahwa dengan berorganisasi maka ilmu itu akan didapatkan. Banyak sekali ilmu yang diperoleh di organisasi di mana tidak diperoleh di dalam kelas, terutama dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

Hal lain, yang menurut penulis tidak kalah pentingnya, adalah terfasilitasinya kegiatan kemahasiswaan, khususnya terkait organisasi intra dan ekstra kampus. Di hampir setiap fakultas, terdapat sejumlah organisasi kemahasiswaan seperti BEM, HMJ – HMJ dan Lembaga Kemahasiswaan. Sedangkan, di tingkat universitas terdapat pula BEM KM, lembaga kemahasiswaan, dan organisasi-organisasi lainnya.

Lain lagi dengan organisasi ekstra. Meski di luar kampus, organisasi ekstra juga banyak memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya. Sejumlah organisasi ekstra seperti HMI, KAMMI, IMM, dan lainnya telah melahirkan pula banyak tokoh baik di tingkat lokal maupun nasional.

Menurut hemat penulis, munculnya banyak organisasi di setiap Universitas  membuktikan bahwa relatif banyak mahasiswa yang ingin mengembankan diri lewat organisasi. Selain itu, dukungan dari kampus tentu sangat berperan dalam tumbuh suburnya organisasi kemahasiswaan di Suatu Universitas. Dukungan ini bisa dalam bentuk materi maupun non materi.

Namun, sekali lagi ditekankan bahwa kegiatan yang dilaksanakan harus bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tentu penggiat organisasi, yang tidak lagi pusing memikirkan dana, akan berkonsentrasi untuk mengembankan organisasinya dan menjalankan setiap program yang telah direncanakan. Sedangkan dukungan non materi juga terlihat pada kebijakan-kebijakan fakultas yang mengakomodasi kepentingan organisasi kemahasiswaan. Nah, menurut hemat penulis, dukungan ini sangat berguna buat tumbuh kembangnya organisasi kemahasiswaan, terutama yang penulis amati di fakultas tempat penulis menggiati organisasi pers mahasiswa.

Dengan demikian, terlaksananya banyak program yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh penggiat yang ada di organisasi tersebut akan mendorong terjadinya proses belajar. Para penggiat organisasi akan berupaya keras untuk menjalankan setiap kegiatan, sehingga dalam proses tersebut, mereka berupaya mengaktualisasikan dirinya. Saya mencontohkan, organisasi pers, di mana penggiat-penggiat di dalamnya akan benar-benar berupaya mengaktualisasikan dirinya dalam bidang tulisan misalnya. Aktualisasi ini difasilitasi dengan dilaksanakannya program-program berupa penerbitan buletin yang ditulis oleh para penggiatnya. Sehingga dengan sendirinya, kemampuan menulisnya juga akan meningkat.

Sementara itu, pengembangan jaringan juga sudah termasuk dalam proses tersebut. Jaringan ini akan terbentuk dengan sendirinya, sebab suatu organisasi pasti berhubungan dengan pihak-pihak eksternal yang menjadi mitra kegiatannya. Misalnya dalam melaksanakan kegiatan seminar, tentu pihak-pihak eksternal akan banyak dilibatkan sehingga dalam hubungan tersebut terbentuk jaringan tidak hanya menyangkut institusinya, melainkan pribadi-pribadi di dalamnya. Misalnya lagi dalam organisasi pers mahasiswa, di mana terbentuknya banyak jaringan terutama dalam bidang periklanan, serta sesama penggiat pers mahasiswa yang kerap kali melaksanakan kegiatan bersama. Pun, antar sesama penggiat dalam suatu organisasi bisa saling menjalin jaringan, sehingga suatu saat nanti, dampak hubungan ini bisa menjadi relasi bisnis atau relasi-relasi lainnya setelah tidak berstatus mahasiswa lagi.

Oleh karenanya, pengembangan jaringan di masa kuliah merupakan kebutuhan penting agar kita dapat menatap masa depan cemerlang. Banyak kenalan, banyak rezeki. Kata ini bisa saja benar, karena jaringan yang luas akan membuka peluang untuk memperoleh kesempatan bisnis ataupun yang lainnya. Di sisi lain, aktualisasi diri merupakan ujung tombak untuk mencapai masa depan yang cemerlang. Tentu dua hal ini merupakan harga mati atau kewajiban untuk dikembangkan oleh mahasiswa. []

Referensi:
Harefa, Andreas. 2005. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Kompas
Andrie Wongso: Aktualisasi Potensi Diri. www.pembelajar.com
Aktualisasi Diri. www.wikipedia.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima Kasih Untuk Komentar nya.....